Pendidikan agama di sekolah dengan pendekatan budaya dalam kurikulum 2013 ataupun kurikulum 2006 diberi ruang untuk dikembangkan, karena model pembelajaran pada kurikulum ini kemampuan mengelaborasi materi yang dikaitkan dengan lingkungan disekitarnya merupakan salah satu cara dalam mengembangkan sistim pembelajaran yang dilakukan, pembelajaran terjadi tidak hanya antar guru dengan murid tetapi dapat diperluas dengan lingkungan dan masyarakat disekitar,karena teramat banyak khazanah ilmu agama yang dapat digali dari pergaulan sosial dan dirujuk dengan sumber pemahaman agama atau kitab suci.

Bersama peserta didik, guru perlu mengembangkan semangat dan proses belajar atau prosedur ilmiah bidang studi Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. Bersama guru mata pelajaran yang lain, guru Pendidikan Agama dan Budi Pekerti perlu berkomitmen melaksanakan tata krama, tata tertib, prosedur kerja, pendekatan atau strategi pembelajaran yang dijadikan acuan oleh sekolah. Bersama orang tua, guru perlu kerjasama untuk mengembangkan pendampingan belajar yang mendukung pengembangan prosedur ilmiah Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. Sehubungandengan itu guru perlu bersama-sama menemukan prosedur pendampingan belajar tersebut. Misalnya dalam mengerjakan pekerjaan rumah orang tua tidak langsung memberi jawaban tetapi membantu putra/putrinya mengikuti langkah-langkah belajar yang diharapkan sehingga persoalan belajar yang diberikan dalam pekerjaan rumah terpecahkan. Dengan demikian sikap ilmiah murid akan terbangun.

Budaya sekolah tidak lepas dari budaya masyarakat. Budaya masyarakat tersusun oleh unsur lingkungan alam, sosial, dan unsur adi kodrati.Sehubungan dengan itu pengembangan budaya sekolah perlu mendukungsekaligus didukung oleh budaya masyarakat dengan memanfaatkan lingkungan alam, sosial, dan religius sebagai sumber belajar. Adat masyarakat, berbagai kesenian (tari, musik, arsitektur, pahat, sastra), wawasan lingkungan,merupakan sumber belajar yang kaya nilai baik ilmiah, sosial maupun religius. Dengan memanfaatkan budaya masyarakat sebagai sumber belajar guru dapat menjadi agen pengembang budaya sebagai �ibu� dari pendidikan

Budaya memiliki dua aspek yang tak terpisahkan, yakni aspek lahir dan batin.Pada aspek batiniah budaya ialah nilai, prinsip, semangat, keyakinan atau pola berpikir, merasa, dan bersikap yang dianut oleh sebuah komunitas. Padaa spek lahiriah budaya merupakan kebiasaan berperilaku yang tampak dalam aturan, prosedur kerja, pengambilan keputusan, tata krama, tata tertib,kepemimpinan, simbol-simbol, adat-istiadat yang mengatur hubungan anggota komunitas baik formal maupun informal. Sebuah tindakan konkret selalu didasari oleh nilai, prinsip, semangat, dan keyakinan tertentu. Aspek lahir dan batin itu tampak sebagai cara atau pola hidup yang bermakna.

Efektifitas pembelajaran yang dilakukan dalam mata pelajaran agama akan terprogram dengan baik jika dirumuskan dalam sebuah prangkat administrasi yang lengkap untuk dijadikan panduan pembelajaran di dalam kelas ataupun di luar kelas dan tetap dalam kerangka kegiatan pembelajaran di sekolah.

Guru mata pelajaran agama yang ingin mengembangkan model pembelajaran yang lebih interaktif dengan pendekatan sainti?k/ ilmiah dapat memiliki perangkat administrasi pembelajaran yang lengkap dan terbaru sesuai kurikulum 2013 dapat segera memiliki dengan melakukan pemesanan melalui custommer service kami; 0812.8383.9485